Selasa, 22 November 2011

LAPORAN PRAKTIKUM PEMISAHAN CAMPURAN


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pada umumnya orang-orang telah mengetahui cara pemisahan campuran dari zat-zat yang dapat mempengaruhi kestabilan atau kejernihan larutan tersebut. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari, masih ada yang menggunakan proses penyaringan air sumur untuk mendapatkan hasil air yang bersih dan jernih. Mereka melakukan penyaringan dengan proses yang sederhana, hanya dengan meggunakan alat-alat yang terjangkau, sehingga air yang dihasilkan dapat dimanfaatkan dalam berbagai keperluan.
Selain itu, pada pembuatan garam dapur yang sederhana yang hanya menggunakan air laut, dan kemudian dipanaskan dibawah panas matahari, akan menghasilkan kristal garam yang dapat dimanfaatkan dalam kebutuhan sehari-hari.
 Dalam ilmu pengetahuan dapat kita pelajari bahwa, dalam pemisahan campuran, dapat dilakukan dengan beberapa cara. Baik dengan menggunakan alat-alat yang modern ataupun hanya menggunakan alat-alat yang sederhana saja. Dalam hal ini, kita dapat juga memisahkan antara zat padat dengan zat padat, antara zat cair dengan zat cair pula. Akan tetapi dalam proses pemisahannya, memiliki perbedaan dalam jenis alat, bahan yang digunakan, ataupun cara kerjanya. Hasil yang diperoleh pun sangat berbeda.
Hal inilah yang menjadi acuan dalam percobaan ini, mengamati proses pemisahan campuran dengan menggunakan cara pemisahan zat padat dengan zat padat. Dalam percobaan ini, dapat dihitung kadar dari hasil akhir dalam proses pemisahan campuran. Sehingga dapat diketahui berapakah kadar yang diperoleh.
1.2  Maksud dan Tujuan
1.2.1     Maksud Percobaan
1.    Untuk memahami cara memisahkan campuran menjadi komponennya.
2.    Untuk mengetahui berbagai metode pemisahan campuran dan prinsip kerja dari masing-masing metode.
3.    Untuk mengetahui kadar dalam hasil akhir pemisahan campuran.
1.2.2     Tujuan percobaan
1.    Untuk mengamati cara memisahkan campuran menjadi komponennya.
2.    Untuk mengamati prinsip kerja dari berbagai metode pemisahan campuran dalam percobaan.
3.    Untuk menentukan kadar dalam hasil akhir pemisahan campuran.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori
2.1.1 Definisi
            Campuran (mixture) adalah materi yang terdiri atas dua macam zat atau lebih dan masih memiliki sifat-sifat zat asalnya. Campuran terbagi atas 2, yaitu :
a.  Campuran heterogen, yaitu campuran yang tidak serbasama, membentuk dua fasa atau lebih, dan terdapat batas yang jelas di antara fasa-fasa tersebut.
b.  Campuran homogen adalah campuran yang serba sama di seluruh bagiannya dan membentuk satu fasa (1).
            Pada dasarnya campuran dapat dipisahkan. Metode pemisahan campuran yang dapat dijadikan dasar pemisahan campuran bergantung pada sifat fisika dari partikel-pertikel penyusun campuran tersebut. Sifat fisika yang dapat dijadikan dasar pemisahan suatu campuran adalah ukuran partikel, titik didih partikel, dan kelarutan (3).
            Namun demikian, ada campuran yang tidak dapat dipisahkan secara fisika. Biasanya campuran tersebut tergolong campuran homogen. Campuran tersebut dapat dipisahkan secara kimia. Perbedaan pemisahan campuran secara fisika dan kimia adalah sebagai berikut :
1.  Pemisahan secara fisika tidak mengubah zat selama pemisahan.
2.  Pemisahan secara kimia, satu komponen atau lebih direaksikan dengan zat lain sehingga terbentuk bagian yang dapat dipisahkan (3).
2.1.2    Metode pemisahan campuran
Berdasarkan tahap proses pemisahan, metode pemisahan dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu metode pemisahan sederhana dan metode pemisahan kompleks.
·            Metode pemisahan sederhana adalah metode yang menggunakan cara satu tahap. Proses ini terbatas untuk memisahkan campuran atau larutan yang relatif sederhana.
·            Metode pemisahan kompleks memerlukan beberapa tahapan kerja, diantaranya penambahan bahan tertentu, pengaturan proses mekanik alat, dan reaksi-reaksi kimia yang diperlukan. Metode ini biasanya menggabungkan dua atau lebih metode sederhana. Contohnya, pengolahan bijih dari pertambangan memerlukan proses pemisahan kompleks.
Keadaan zat yang diinginkan dan dalam keadaan campuran harus diperhatikan untuk menghindari kesalahan pemilihan metode pemisahan yang akan menimbulkan kerusakan hasil atau melainkan tidak berhasil.
2.1.3    Jenis-jenis pemisahan campuran
Beberapa jenis pemisahan campuran diantaranya adalah :
a)     Filtrasi atau penyaringan merupakan metode pemisahan untuk memisahkan zat padat dari cairannya dengan menggunakan alat berpori (penyaring). Proses filtrasi merupakan proses fisik. Dimana filtrasi adalah suatu satuan pengerjaan dimana campuran zat padat dan cair, makanan, suspensi, dispersi, influent atau bubur dipaksakan melewati suatu medium berpori di mana zat padat akan ditahan. Dasar pemisahan metode ini adalah perbedaan ukuran partikel antara pelarut dan zat terlarutnya. Penyaring akan menahan zat padat yang mempunyai ukuran partikel lebih besar dari pori saringan dan meneruskan pelarut. Proses filtrasi yang dilakukan adalah bahan harus dibuat dalam bentuk larutan atau berwujud cair kemudian disaring. Hasil penyaringan disebut filtrat sedangkan sisa yang tertinggal di penyaring disebut residu (ampas). Metode ini dimanfaatkan untuk membersihkan air dari sampah pada pengolahan air, menjernihkan preparat kimia di laboratorium, menghilangkan pirogen (pengotor) pada air suntik injeksi dan obat-obat injeksi, dan membersihkan sirup dari kotoran yang ada pada gula. Penyaringan di laboratorium dapat menggunakan kertas saring dan penyaring buchner. Penyaring buchner adalah penyaring yang terbuat dari bahan kaca yang kuat dilengkapi dengan alat penghisap (4).
b)     Destilasi atau penyulingan adalah suatu proses penguapan yang diikuti pengembunan yang bertujuan untuk memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki perbedaan titik didih  yang  jauh. Destilasi merupakan metode pemisahan untuk memperoleh suatu bahan yang berwujud cair yang terkotori oleh zat padat atau bahan lain yang mempunyai titik didih yang berbeda. Dasar pemisahan adalah titik didih yang berbeda. Bahan yang dipisahkan dengan metode ini adalah bentuk larutan atau cair, tahan terhadap pemanasan, dan perbedaan titik didihnya tidak terlalu dekat.
Proses pemisahan yang dilakukan adalah bahan campuran dipanaskan pada suhu diantara titik didih bahan yang diinginkan. Pelarut bahan yang diinginkan akan menguap, uap dilewatkan pada tabung pengembun (kondensor). Uap yang mencair ditampung dalam wadah. Bahan hasil pada proses ini disebut destilat, sedangkan sisanya disebut residu. Contoh destilasi adalah proses penyulingan minyak bumi, pembuatan minyak kayu putih, dan memurnikan air minum (5).
c)     Kristalisasi adalah proses pembentukan kristal. Kristal dapat terbentuk bila uap dari partikel yang sedang mengalami sublimasi menjadi dingin. Selama proses kristalisasi, hanya partikel murni yang akan mengkristal. Pembentukan kristal digunakan dalam teknik untuk memperoleh suatu bahan murni dari suatu campuran. Pada kristalisasi, bahan-bahan lain yang tidak diinginkan tetapi terdapat dalam campuran akan tetap berwujud cair (3).
d)     Sublimasi merupakan metode pemisahan campuran dengan menguapkan zat padat tanpa melalui fasa cair terlebih dahulu sehingga kotoran yang tidak menyublim akan tertinggal. bahan-bahan yang menggunakan metode ini adalah bahan yang mudah menyublim, seperti kamfer dan iod (3).
2.2 Uraian Bahan
2.2.1 Garam Dapur (NaCl) (FI III, 1979 hal : 403)
Nama latin                             : Natrii Chloridum
Nama lain                              : Natrium Klorida
Berat molekul                       : 58,44
Rumus struktur                    :
Pemerian                              :           Hablur heksahedral; tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa asin.
Kelarutan                              : Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air medidih dan dalam lebih kurang 10 bagian gliserol P; sukar larut dalam etanol (95 %) p.
Identifikasi                            : Menunjukan reaksi Natrium dan Klorida yang tertera pada reaksi identifikasi.
Keasaman - kebasahan    : Larutkan 50 g dalam 200 ml air bebas karbondioksida P, tambahkan 10 tetes larutan biru bromtimol P. Jika larutan berwarna kuning, untuk merubah menjadi warna biru diperlukan tidak lebih dari 1,0 ml natrium hidroksida 0,02 N. Jika larutan berwarna hijau atau biru, untuk merubah menjadi warna kuning diperlikan tidak lebih dari 3,12 ml asam klorida 0,02 N.
Susut pengeringan            : Tidak lebih dari 0,5 %
Penyimpanan                      : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat dan penggunaan : Sumber ion klorida dan ion natrium.
2.2.2 Gula (Glukosa) (FI III, 1979 hal : 268)
Nama latin                            : Glucosum
Nama lain                             : Glukosa
Berat molekul                       : 198,17
Rumus molekul                   : C6H12O6 . H2O
Rumus struktur                    :
                                                           
Pemerian                              : Hablur tidak berwarna, serbuk hablur atau butiran putih; tidak berbau, rasa manis.
Kelarutan                              : Mudah larut dalam air; sangat mudah larut dalam air mendidih; agak sukar larut dalam etanol (95 %) P mendidih; sukar larut dalam etanol (95 %) P.
Identifikasi                            : Tambahkan beberapa tetes larutan 5 % b/v pada 5 ml larutan kalium tembaga (II) tratrat P panas; terbentuk endapan merah.
Keasaman – kebasahan   : Larutkan 5 gr dalam 50 ml air bebas karbondioksida P. Netralkan dengan natrium hidroksida 0,02 N menggunakan indikator fenoftalein P, diperlukan tidak lebih dari 0,3 ml.
Penyimpanan                      : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat dan penggunaan : Kalorigenikum.
2.2.3 Aquadest (FI III, 1979 hal : 96)
Nama latin                            : Aqua Destillata
Nama lain                             : Air suling
Berat molekul                       : 18,02
Rumus molekul                   : H2O
Rumus strukrur                   :
                                                 
Pemerian                              : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai rasa.
Keasaman – kebasahan   : Pada 10 ml tambahkan 2 tetes larutan merah metil P; tidak terjadi warna merah. Pada 10 ml tambahkan 5 tetes larutan biru bromtimol P; tidak terjadi warna biru.
Penyimpanan                      : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat dan kegunaan      : Sebagai Pelarut
                                              

BAB III
METODE KERJA
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
1.    Timbangan analitik
2.    Gelas piala kecil
3.    Gelas ukur
4.    Cawan penguap
5.    Batang pengaduk
6.    Corong gelas
7.    Oven
3.1.2 Bahan
1.    Zat uji (campuran gula, garam, pasir)
2.    Air suling
3.    Kertas saring








3.2  Cara Kerja
Zat uji tiap 5 gr
                                       
 

-       Ditimbang seksama.
-       Dimasukan kedalam gelas beker.
-       Dilarutkan dengan air selama 3 kali (25 ml, 15 ml, 10 ml) dan disaring, setiap dilarutkan.

RESIDU
FILTRAT
 



-        Dikeringkan dalam oven selama 30 menit dalam suhu 105 ºC.

KRISTAL
 

             
-        Didinginkan dalam suhu kamar.
-        Ditimbang seksama, dicatat datanya.
-       
KADAR YG DIPEROLEH
Dihitung kadar garam dapur.
-         
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penagamatan
Tabel hasil pengamatan pemisahan zat padat dengan zat padat dengan menggunakan sampel (pasir + gula + garam).


No   Sampel sebelum-   Sampel setelah-   Volume-            Kadar g (a - b)
dilarutkan g (a)       dikeringkan g (b)   aquadest (ml)
1                                         10,0236                    25                       4,9762
2              15                        2,5247                     15                        12,4753
3                                          1,527                      10                         13,473


4.2 Perhitungan
Zat uji 1 (pada konsentrasi air 25 ml)
kadar           = a – b
                     = 15 gr –10,0236 gr
                     = 4,9764 gr
% kadar       = a – b x 100%
                     = 4,9764 x 100%
                     = 497,64 %
Zat uji 2 (pada konsentrasi air 15 ml)
Kadar           = 15 gr – 2,5247 gr
                     =12,4753 gr
% kadar       = 12,4753  x 100%
                     = 1247,53 %
Zat uji 3 (pada konsentrasi air 10 ml)
Kadar           = 15 gr – 1,527 gr
                     = 13,473 gr
% kadar       =13,473  x 100%
                     = 1347,3 %
4.3 Pembahasan
            Pada hasil pengamatan, terlihat bahwa hasil yang diperoleh dari setiap perlakuan berbeda. Pada perlakuan pertama, dengan menggunakan volume air 25 ml, dengan zat uji 15 gr (terdiri dari campuran pasir, garam, gula masing-masing 5 gr), saat dilarutkan zat uji kedalam air dan diaduk terlihat larutan makin keruh, dan pasir yang tidak terlarut dalam air, karena pasir diantara garam dan gula merupakan campuran heterogen. Dimana pasir masih dapat terlihat dan membentuk dua fasa, dengan gula dan garam serta terdapat batas yang jelas antara fasa-fasa tersebut (1). Akan tetapi gula dan garam tercampur homogen, sehingga antara gula dan garam sudah tidak dapat dipisahkan lagi karena diseluruh bagiannya sudah membentuk satu fasa (1).
            Dilanjutkan pada proses filtrasi dengan menggunakan corong gelas dan kertas saring. Pada proses ini, dihasilkan filtrat dan residu. Filtrat merupakan hasil dari proses filtrasi, yang melewati penyaring. Dimana filtrat ini akan digunakan lagi pada proses pengamatan selanjutnya (4). Sedangkan residu merupakan sisa (ampas) yang tertinggal pada proses filtrasi (4). Kemudian residu dari penyaringan sebelumnya dilarutkan kembali dengan air dengan konsentrasi 15 ml, diaduk, dan kemudian disaring kembali seperti cara sebelumnya. Filtrat yang dihasilkan terlihat sedikit jernih, dibandingkan dengan filtrat pada perlakuan pertama. Sedangkan residu yang dihasilkan pada perlakuan kedua, dilarutkan kembali dengan konsentrasi air 10 ml, diaduk dan disaring. Pada percobaan yang terakhir ini terlihat filtrat yang dihasilkan lebih jernih dari pada filtrat dari perlakuan kedua, maupun yang pertama. Ini membuktikan bahwa komponen dalam zat uji semakin dilarutkan maka semakin berkurang. Sehingga filtrat yang dihasilkan pada perlakuan yang terakhir terlihat lebih jernih dibandingkan filtrat pada perlakuan sebelumnya.
            Setelah semua perlakuan telah dilakukan, dilanjutkan dengan pemanasan setiap filtrat. Dari 25 ml, 15 ml, dan 10 ml, pada suhu 105 º C dalam waktu 30 menit sampai kering. Saat telah memenuhi waktu yang ditentukan, maka filtrat telah kering dan berubah bentuk menjadi kristal. Filtrat yang pertama kering dan berubah menjadi kristal adalah pada konsentrasi 10 ml. karena memiliki konsentrasi yang paling rendah, sehingga proses pengeringan berlangsung cepat.  Hal ini dapat dilihat bahwa, semakin besar konsentrasi air yang digunakan, maka proses pengeringan akan berlangsung lama. Hal ini juga tergantung pada suhu, serta waktu yang digunakan. Berdasarkan teori bahwa suhu merupakan salah satu hal yang mempengaruhi dam proses pemanasan (4). Akan tetapi yang menghasilkan kristal yang lebih banyak diantara ketiga konsentrasi adalah kristal pada konsentrasi 25 ml. Sedangkan pada konsentrasi 15 ml dan 10 ml lebih sedikit. Ini disebabkan juga oleh banyaknya konsentrasi air, dimana semakin besar konsentrasi yang digunakan maka semakin banyak kristal yang diperoleh. Kristal tersebut didinginkan pada suhu kamar, kemudian dihitung kadarnya. Dalam perhitungan, hasil yang didapat adalah kadar dari garam, yang tercampur dalam zat uji yang digunakan. Perbandingan hasil pengamatan juga sangat berbeda. Pada perlakuan pertama dengan konsentrasi 25 ml menghasilkan kadar 4,9764 gr, persen kadar 497,64 %. Pada perlakuan kedua dengan konsentrasi 15 ml menghasilkan 12,4753 gr, persen kadar 1247,53 %. Pada perlakuan ketiga dengan konsentrasi larutan 10 ml, menghasilkan kadar 13,473 gr, persen kadar 1347,3 %. Dalam hal ini, pada konsentrasi air yang banyak, menghasilkan kadar yang sedikit, sedangkan semakin menurun jumlah konsentrasi aquadest maka semakin besar kadar yang diperoleh.







BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
            Dari pembahasan sebelumnya dapat ditarik kesimpulan bahwa cara memisahkan campuran menjadi komponenya pada zat padat dengan zat padat dapat menggunakan metode filtrasi (penyaringan). Sehingga menghasilkan kristal garam, yang berasal dari zat uji yang sebelumnya dilarutkan dalam air dengan konsentrasi masing-masing 25 ml 15 ml dan 10 ml. Dari ketiga konsentrasi air yang merupakan pelarut pada zat uji menghasilkan %kadar yang berbeda-beda. Diantaranya 497.64%, 1247.53%, 1347.3%. Dimana Konsentrasi yang kecil menghasilkan kadar yang lebih besar dibandingkan konsentrasi yang besar yang menghasilkan kadar yang kecil.
5.2 Saran
            Adapun saran berdasrkan percobaan ini adalah, sebaiknya zat uji yang akan digunakan dalam pemisahan campuran adalah zat uji yang halus. Agar dalam proses pelarutan akan mendapatkan hasil yang baik. Selain itu, pada proses pemanasan dalam oven, suhu dan waktu dapat ditentukan dengan baik, agar dapat  menghasilkan kristal yang sempurna, serta penentuan kadar yang akurat. Serta kelengakapn alat sebaikya dapat diperhatikan dalam suatu pengamatan.





BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
1.     Chang, R. 2010. Kimia Dasar Jilid 1 Edisi  3. Jakarta : Erlangga.
2.     Direktorat Jenderal POM Departemen Kesehatan RI . 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
3.     Direktorat Jenderal POM Departemen Kesehatan RI . 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
4.     Kamilati, H. 2006. Mengenal Kimia. Bandung : Yudistira
5.     Lachman, L. dkk. 2007. Teori dan Praktek Industri. Jakarta : Universitas Indonesia Press.
6.     Rahayu, N. 2007. Kamus Kimia. Jakarta : Gagas Media







LAMPIRAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar